Hidup sebagai student di luar negeri – efek fisik dan mentalitas

Aku hanya memiliki pengalaman yang sangat terbatas hidup di luar negeri, yakni hanya selama 3 tahun 1 bulan tepatnya.

Itupun sebenarnya bermula ketika aku berada dalam kondisi yang penuh ketidakpastian serta kegalauan yang luar biasa 5 tahun yang lalu. Saat itu, kolega serta pimpinanku menganjurkanku untuk mengambil kursus bahasa Inggris di Jakarta, sebagai alasan “cuti” yang paling possible untuk diambil saat itu — meskipun sebenarnya nekat, karena sejak SMP hingga mahasiswa, bahasa Inggris adalah mata pelajaran kedua setelah Pendidikan Jasmani yang paling konsisten memberikan nilai terburuk di rapor, Nem, dan transkrip kuliah :(. Nekat, karena biaya hidup selama ambil kursus di Jakarta (note, hometown saya Surabaya) baru akan diganti kalau aku sukses lulus ujian kursusnya, yang diukur dengan nilai IELTS minimum 6.5! Jujur, bagi aku saat itu, mencapai target tersebut seperti…meraih bintangdi langit! Maka itu sebenarnya aku sama sekali tidak pernah bermimpi ingin studi lanjut di UK.

Memang, jika Allah berkehendak, kadang semua bisa terbalikkan 180 derajat! Ditengah kekacauan konsentrasiku untuk belajar, maka pergilah aku “cuti” ke Jakarta untuk belajar bahasa Inggris. Seperti keajaiban, aku bisa mencapai nilai IELTS 7 out of 9! Diatas target minimum 6.5! Sungguh itu prestasi yang luar biasa buat aku. Sujud syukurpun aku panjatkan… Sekali lagi, rencana Allah itu sungguh sempurna, meskipun kadang itu tampaknya berawal dari sebuah cobaan besar…

Dengan berbekal IELTS 7, aku bisa mendapat Letter of Acceptance untuk studi PhD dari beberapa university di UK dan Australia dengan cukup mudah. Singkat kata, maka pergilah aku ke Loughborough University, UK. Selain alasan track record supervisor yang sangat bagus, motivasi lain memilih Loughborough dibanding Manchester dan Sydney adalah….. karena sedikit orang Indonesia ada dan mengenal Loughborough, sehingga aku bisa memiliki kesempatan lebih banyak untuk belajar tentang hidup dari orang-orang lokal di Inggris.

Selama di Loughborough, sifat individualisku mungkin banyak membantuku untuk beradaptasi dengan orang-orang lokal disana. Jadi, meskipun Loughborough itu kota yang sangat kecil dan sepi, aku fine dengan kondisi itu. Mungkin yang agak membuatku merasa shock secara budaya pertama kali adalah ketika mengetahui bebasnya pasangan anak muda untuk hidup bareng satu kamar tanpa payung pernikahan, dan mereka adalah teman-teman baikku yang ikhlas membantu aku settle di Loughborough. Tetapi, mereka begitu menghormatiku sebagai seorang muslim, meskipun kadang mereka menganggap aku kasian jadi seorang muslim karena harus sholat 5 waktu sehari dan puasa hingga 20 jam ketika Ramadhan tiba saat summer. Hehe. Tapi berhubung aku orangnya masa bodo, aku cukup bilang: “That’s fine, it defintely makes me feel better and happier, even healthier” — well, meskipun pada akhirnya aku terserang maag dan diare parah gara-gara ngga kuat puasa 20 jam, hehe.

Singkat kata lagi, kujalanilah hidupku sehari-hari sebagai PhD student. Lima hingga tujuh hari seminggu, aku pergi ke universityku setiap hari, jalan kaki, yang kata Google jaraknya 2 km dari flat (apartemen) tempat aku tinggal. Dengan kata lain, aku berjalan kaki rutin tiap hari minimum total 4 km untuk pulang pergi office – flat. Belum lagi kalau aku harus belanja bahan makanan, masih berjalan lagi sekitar 1 km ke Tesco, dan bawa kresek barang belanjaan pake tangan. Apalagi, naluriku perempuan, alias one stop shopping never applies to me — untuk selisih harga beberapa pence saja kadang aku rela survey bolak balik ke beberapa toko, lalu baru memutuskan item apa murahnya belanja di toko apa, hehee (serasa tipikal perempuan Asia :p).

Selain jalan kaki sambil manggul laptop dan tenteng tas kresek belanjaan yang kadang ngujubile beratnya, aku juga agak trauma naik lift! Jadi, tiap hari aku pakai tangga naik turun di flat ke apartmentku di lantai 6. So, bisa dibayangkan, betapa kekarnya diriku, keseharianku serasa masuk kuil shaolin 3 taun, dilatih mental dan fisik. Makanya, berat badanku naik 5 kilo :(, sedihnya, lenganku sekarang juga tampak berotot :(. Kekuatan fisikku terbukti ketika aku baru tiba di bandara Soekarno-Hatta, aku dengan entengnya ngangkat koper 30 kg dengan kesigapan yang jauh lebih bagus dibanding bapak-bapak yang nawarin jasa porter (hehe..ga heran akhirnya bapak-bapak porter itu urung menawarkan jasanya ke aku pas liat aku lebih powerful dan stabil angkat-angkat bagasi dibanding mereka).

Cerita berlanjut. Saat tinggal di flat, aku pun melamar bekerja part time sebagai subwarden – yang bertugas sebagai backup manager (sekaligus teknisi dan satpam apartment, lol) selama diluar office hour. Tugasnya macam-macam, mulai dari membantu customer check-in dan check-out, inspeksi kamar, menangani fire alarm (dimana panelnya ada di lantai dasar! Artinya, kalo alarm bunyi, aku kudu lari-lari turun tangga dari lantai 6 ke lantai dasar untuk cek lokasi sumber alarm), standby di kantor, nerima telpon buat yang tanya-tanya tentang kamar, nanganin korsleting listrik, mbantuin tenant keluar dari lift pas lift stuck (pas momen ini, aku serasa jadi wonder woman bok! buka pintu lift manual pake tangan dengan bantuan kunci lift khusus), hingga sampai menangani tenant yang berhalusinasi.

Hehe, jadi, untuk tenant yang berhalusinasi, ceritanya begini. Mulai 22 Desember hingga 2 Januari itu adalah liburan panjang di UK, untuk merayakan Natal sekaligus Tahun Baru. Seluruh dosen, karyawan, serta mahasiswa pasti mereka mudik kota asal mereka masing-masing, dan itu membuat townku (Loughborough) akan menjadi sangat senyap, termasuk apartmentku. Hal ini disebabkan university adalah jantung perekonomian townku, jadi ketika university libur total, maka town juga relatively ikut “libur”, alias sepi.

Karena aku subwarden, maka aku harus terus stay di apartment selama holiday panjang tersebut. Dari total 112 kamar, mungkin hanya sekitar 4-7 tenants (termasuk aku) yang tetap stay di flat. Jadi bisa dibayangkan, gedung flatku sangatlah sunyi, dan suasana di luar gedung flatku pun juga sangat sunyi, karena townnya sunyi. Suara aliran listrik carjer hapepun bisa didengar jika tengah malam tiba, hehe. Plus, Desember adalah winter time, so cold and quiet, komplit sudah nuansa bertapanya… Jadi silakan dibayangkan, aku pernah tidak ngomong sama sekali karena tidak bertemu manusia selama sekitar 2.5 minggu!! Apakah itu stressful? Haha, pada awalnya, iya, sangat… namun pada akhirnya aku mencoba memposisikan diriku sebagai pertapa, dan itu sangat membantuku untuk survive untuk tidak berinteraksi dengan manusia selama durasi tersebut!

Plus, suatu ketika, di tengah-tengah sunyinya suasana flat dan kota, tepat pukul 12 malam, ketika aku sudah tertidur lelap, HP subwardenku berdering. Seorang cewe lokal (native) telepon dan mengatakan bahwa dia tidak bisa tidur karena ada tenant yang memutar musik kenceng-kenceng di bloknya tengah malam. So, karena tugasku adalah menjamin kenyamanan tenant, maka turunlah aku ke lantai 2, masuk ke blok apartment dimana cewe itu tinggal dan cek suasana. Ternyata suasananya sangat hening, ngga ada suara musik sama sekali. Karena aku pikir fine, maka aku naik ke apartmentku dan kembali ke kamar. Lalu, ternyata HP subwardenku berbunyi lagi, dari cewe yang sama, dengan komplain yang sama. Demi meladenin customer, aku turun lagi untuk kedua kalinya ke blok tempat cewe itu tinggal, dan, everything is fine! Tidak ada noise sama sekali. Baru pas itu aku berpikir bahwa mungkin cewe itu berhalusinasi..? Lalu dia call lagi dan komplain hal yang sama, dimana saat itu aku posisinya masih berada di blok dia di lantai 2. Pada call yang ke-tiga tersebut, aku baru berani bilang ke dia bahwa : I hear no music and any other noise in your apartment, because now I am at your block. It’s totally fine.. I’m here with you now…..” dan bla bla supaya dia stop berhalusinasi. Untungnya, in the end, dia bilang sorry karena memang sekarang dia ngga denger ada noise..

Yah begitulah. Itulah hidupku selama sebagai student di UK, serta efek mental dan fisik terhadap diriku. Yang sedih, sekarang badanku rada berotot :(, moga-moga aku bisa kembali feminin lagi karena sekarang aktivitas fisikku jauh tak seintens dulu…

So, this is me.. Banyak life experience lain yang ingin aku share,. Semoga aku diijinkan Allah untuk tetap mengingat dan meneruskan hikmah pengalamanku hidup di UK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s