Kompleksitas Permasalahan Supply Chain Ketahanan Pangan di Indonesia

Tulisan ini sebenarnya hanya tulisan “ringan” yang bertujuan untuk menumpahkan uneg-uneg seorang periset yang masih muda (yaitu saya, hehe..narsis amat ya!) dalam memandang kompleksitas permasalahan SCM untuk ketahanan pangan di Indonesia.

Sebenarnya permasalahan pangan sudah menjadi concern pemerintah sejak lama, yaitu sejak jaman Soekarno, Soeharto (dimana dulu Indonesia sempat mengalami masa-masa swasembada pangan di era tahun 80-an), hingga pemerintah di tahun 2013 ini. Semakin primer (maksudnya, semakin tinggi tingkat ketergantungan rakyat, atau semakin rendah tingkat substitabilitynya) suatu komoditas pangan, maka semakin besar komoditas tersebut dijadikan “tool” untuk kepentingan politik. Yah, paling tidak begitulah kondisi umum di negara kita tercinta ini..😦..

Saking kompleksnya, sebenarnya bingung juga, sharingnya mau mulai dari mana ya..??
Intinya, permasalahan dalam rantai pasok itu secara umum bisa dikategorikan menjadi 3 bagian: permasalahan di sisi hulu, di sisi logistik, dan di sisi hilir. Kalau dikaitkan dengan ketahanan pangan, dimanakah permasalahan kita (red: Indonesia) yang paling krusial? Jawaban secara generik : di semua aspek, mulai dari hulu, logistik, dan hilir.

Untuk produk-produk pangan yang sifat substitutability-nya sangat rendah, umumnya menjadi komoditas utama di Indonesia. Misalnya, beras dan bawang putih. Amati aja, ketika impor dibatasi, inflasi harganya langsung luar biasa. Inflasi harga tersebut secara hukum ekonomi merupakan efek dari fungsi supply dan demand, namun pada prakteknya hukum supply dan demand tidak selalu berjalan sesuai dengan teori empirisnya. Kadang, supply komoditas di suatu regional tertentu sebenarnya cukup, namun karena kondisi supply di level nasional masih shortage, tetap aja harga komoditas di regional tersebut mengalami inflasi. Apa yang menyebabkan hal tersebut? Honestly, I dunno exactly. Banyak praktisi yang berpendapat, itu karena ada “unsur” politis. Wallahu alam.

Terkait dengan komoditas yang tingkat substitutabilitynya rendah, kebanyakan permasalahan utama ketahanan pangan berfokus di sisi hulu. Secara umum, komoditas ini membutuhkan investasi yang besar untuk inovasi teknologi pertanian yang dapat meningkatkan kuantitas dan menjamin keseragaman kualitas di level petani. It means, petani juga perlu sertifikasi lah, supaya variansi kualitasnya kecil, dan konsistensi pasokannya stabil. Kalo petani sudah bersertifikasi, pasti bargaining position mereka lebih tinggi, in my humble opinion aja sih….

Sedangkan terkait komoditas yang substitutability-nya tinggi, artinya yang mudah tergantikan oleh komoditas sejenins, umumnya (in my opinion lho ya) permasalahan rantai pasoknya berada di sisi logistik dan hilir. Low response time, less effort on quality assurance during distribution process, dan too high distribution cost, merupakan isu-isu umum di Indonesia. Sedih. Ditambah lagi belum adanya edukasi pasar supaya konsumen lebih mencintai produk dalam negeri, dimana ini masuk dalam kategori permasalahan di sisi hilir. Duh…

Kalau pembatasan impor bawang putih dipandang tidak efektif dan merugikan konsumen, maka pembebasan bea cukai untuk komoditas impor yang dianggap penting, seperti bawang putih, juga bukanlah solusi yang baik untuk jangka panjang. Seperti halnya kita jadi punya ketergantungan tinggi terhadap keberadaan gandum dan tepung terigu, sejak gandum dibebaskan cukai masuknya😦..

In conclusion, I offer nothing as solution here. At least, Kementerian Perhubungan, Perdagangan, dan Pertanian, punya kebijakan yang sinkron lah. Yah begitulah uneg2 saya hari ini. Semoga memberi manfaat bagi pembaca yang membutuhkan sudut pandang mengenai hal ini.

See ya in my next post!🙂

stock-photo-traditional-market-pascatsunami-at-aceh-indonesia-227101

8 thoughts on “Kompleksitas Permasalahan Supply Chain Ketahanan Pangan di Indonesia

  1. Pangan memang menjadi kebutuhan utama bagi manusia. Bukan industri baja, bukan industri otomotif, ataupun industri tambang yang sebenarnya memainkan peranan penting di dalam pertumbuhan sebuah negara. Namun, industri pertanian lah yang memegang peranan penting untuk menyokong pertumbuhan negara kita. Menjadi sebuah kebutuhan pokok bagi manusia, semua kegiatan usaha yang dilakukan akan tertuju pada pemenuhan kebutuhan pangan mereka. Petani lah yang seharusnya menjadi pahlawan bagi negara kita. Kita tidak akan pernah bisa berkembang jika kebutuhan utama kita saja sulit untuk dipenuhi. Sangat sepakat dengan tulisan ibu di atas. Semakin tinggi tingkat kebutuhan, akan semakin banyak pula pihak yang ikut terlibat dalam konflik kepentingan. Dibutuhkan visi yang searah bagi semua pihak jika masih menginginkan indonesia yang lebih maju😀

    Majulah terus petani-petani Indonesia..

  2. Sebenernya menarik banget kalau mau mengkaji dampak adanya campur tangan mafia terhadap mekanisme pasar secara ekonomi, dan dampaknya terhadap masing-masing mata rantai pada rantai pasok. Sedih, iya, miris, apalagi, tapi sebagai kaum intelektual, kita ngga bisa berenti sampai sedih dan miris. Ayo mbak, kalau tertarik, saya ingin mengadakan riset bertemakan hal tersebut (dan yang pasti menekankan betapa besarnya kerugian yang diterima petani) tetapi sekarang masih berkutat di pendalaman materi dan pencarian data.

    1. Iya, sangat menarik memang; tapi rasa2nya, kalau hanya mengandalkan background periset yg berangkat dari engineering (tanpa pendekatan ilmu sosial sedikitpun) seperti saya, sulit untuk menemukan ujung simpul applied solution yang efektif dan efisien :p. Tapi, bagaimanapun juga riset harus terus dilakukan dan dikembangkan🙂.
      Wah boleh banget mas Armi, kalau memang sangat memungkinkan untuk joint research ^^…

  3. Bu Arvietrida, Saya sedang kumpulin data untuk mulai Riset tentang hal ini. Aku S1 Engineering dan S2 Business jadi muda-mudahan bisa nyambung untuk nyari solusi. Bagaimana kalau kita join Bu Risetnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s