My new year :)

Mari nulis random lagiii…where no rule required! :p

Akhirnya, aku kembali lagi menikmati Tahun Baru dengan suasana yang riweh! Alias jederan kembang api dimana-mana, dan lalu lintas sepeda motor yang semakin pikuk jelang pergantian tahun!

It might be annnoying, karena suara mercon ngga jelas berjederan dimana-mana, plus pengendara motor (dan juga termasuk mobil) yang semakin pikuk, riweh, ngga jelas ketika tengah malam semakin dekat. Ngga jelasnya itu ya, lampu motornya ngga dinyalain, pengendara ga pake helm, tetep selonong boy nerobos lampu merah, nyalip mobil dengan kalem dari sisi kiri mobil pas belokan, yang dibonceng banyak, etc, yang emang kalau dipikir logis, semua hal tersebut bikin bete, haha!

Tapi, mungkin ini bisa jadi “hiburan” yang cukup unik, terutama kalau kita punya pengalaman hidup di negara rantau, dan pas Christmas and New Year holiday, kita malah ambil fulltime job selama 2 minggu! Contohnya ya.. aku ini, hahaa.. I spent my previous new years alone (note: bener2 alone) at my flat, dines bo..jagain akomodasi sunyi dimana home students pada pulkam dan international students pada pelesiran ke Eropa, jadi bossku merasa sangat amat beruntung ketika aku bilang “I could help you during the holiday, I would be definitely stay here and not going anywhere”, so then she can enjoy her Christmas dinner and New Year with her half, family, and friends :p.

Karena Surabaya relatif terus-terusan hujan, pada akhirnya pun sampai hari ini aku cuman stay di rumah, dan kirim message ke temen-temen and greeting them a Happy New Year :). Tadi malah juga sempet nonton Dinner date di ITV (salah satu acara idola yang ga mutu pol pas di Inggris), hihi..lucu.. karena pas edisi blind date sesama jenis. Kalo nonton doank mah lucu, tapi kalo pernah ngalamin pernah disukain sama sesama jenis, boo serem bangett boo *usap peluh*.

Jadi, Selamat Tahun Baru 2017! Semoga tahun ini membawa keberkahan yang lebih baik untuk kita semua – termasuk untuk negara Indonesia, semoga masyarakatnya makin damai dan maju. Serta infrastruktur lalu lintasnya makin mapan, sehingga tingkat bahaya berkendara bisa direduksi secara signifikan. Amin.. ^^ xx

Hidup sebagai student di luar negeri – efek fisik dan mentalitas

Aku hanya memiliki pengalaman yang sangat terbatas hidup di luar negeri, yakni hanya selama 3 tahun 1 bulan tepatnya.

Itupun sebenarnya bermula ketika aku berada dalam kondisi yang penuh ketidakpastian serta kegalauan yang luar biasa 5 tahun yang lalu. Saat itu, kolega serta pimpinanku menganjurkanku untuk mengambil kursus bahasa Inggris di Jakarta, sebagai alasan “cuti” yang paling possible untuk diambil saat itu — meskipun sebenarnya nekat, karena sejak SMP hingga mahasiswa, bahasa Inggris adalah mata pelajaran kedua setelah Pendidikan Jasmani yang paling konsisten memberikan nilai terburuk di rapor, Nem, dan transkrip kuliah :(. Nekat, karena biaya hidup selama ambil kursus di Jakarta (note, hometown saya Surabaya) baru akan diganti kalau aku sukses lulus ujian kursusnya, yang diukur dengan nilai IELTS minimum 6.5! Jujur, bagi aku saat itu, mencapai target tersebut seperti…meraih bintangdi langit! Maka itu sebenarnya aku sama sekali tidak pernah bermimpi ingin studi lanjut di UK.

Memang, jika Allah berkehendak, kadang semua bisa terbalikkan 180 derajat! Ditengah kekacauan konsentrasiku untuk belajar, maka pergilah aku “cuti” ke Jakarta untuk belajar bahasa Inggris. Seperti keajaiban, aku bisa mencapai nilai IELTS 7 out of 9! Diatas target minimum 6.5! Sungguh itu prestasi yang luar biasa buat aku. Sujud syukurpun aku panjatkan… Sekali lagi, rencana Allah itu sungguh sempurna, meskipun kadang itu tampaknya berawal dari sebuah cobaan besar…

Dengan berbekal IELTS 7, aku bisa mendapat Letter of Acceptance untuk studi PhD dari beberapa university di UK dan Australia dengan cukup mudah. Singkat kata, maka pergilah aku ke Loughborough University, UK. Selain alasan track record supervisor yang sangat bagus, motivasi lain memilih Loughborough dibanding Manchester dan Sydney adalah….. karena sedikit orang Indonesia ada dan mengenal Loughborough, sehingga aku bisa memiliki kesempatan lebih banyak untuk belajar tentang hidup dari orang-orang lokal di Inggris.

Selama di Loughborough, sifat individualisku mungkin banyak membantuku untuk beradaptasi dengan orang-orang lokal disana. Jadi, meskipun Loughborough itu kota yang sangat kecil dan sepi, aku fine dengan kondisi itu. Mungkin yang agak membuatku merasa shock secara budaya pertama kali adalah ketika mengetahui bebasnya pasangan anak muda untuk hidup bareng satu kamar tanpa payung pernikahan, dan mereka adalah teman-teman baikku yang ikhlas membantu aku settle di Loughborough. Tetapi, mereka begitu menghormatiku sebagai seorang muslim, meskipun kadang mereka menganggap aku kasian jadi seorang muslim karena harus sholat 5 waktu sehari dan puasa hingga 20 jam ketika Ramadhan tiba saat summer. Hehe. Tapi berhubung aku orangnya masa bodo, aku cukup bilang: “That’s fine, it defintely makes me feel better and happier, even healthier” — well, meskipun pada akhirnya aku terserang maag dan diare parah gara-gara ngga kuat puasa 20 jam, hehe.

Singkat kata lagi, kujalanilah hidupku sehari-hari sebagai PhD student. Lima hingga tujuh hari seminggu, aku pergi ke universityku setiap hari, jalan kaki, yang kata Google jaraknya 2 km dari flat (apartemen) tempat aku tinggal. Dengan kata lain, aku berjalan kaki rutin tiap hari minimum total 4 km untuk pulang pergi office – flat. Belum lagi kalau aku harus belanja bahan makanan, masih berjalan lagi sekitar 1 km ke Tesco, dan bawa kresek barang belanjaan pake tangan. Apalagi, naluriku perempuan, alias one stop shopping never applies to me — untuk selisih harga beberapa pence saja kadang aku rela survey bolak balik ke beberapa toko, lalu baru memutuskan item apa murahnya belanja di toko apa, hehee (serasa tipikal perempuan Asia :p).

Selain jalan kaki sambil manggul laptop dan tenteng tas kresek belanjaan yang kadang ngujubile beratnya, aku juga agak trauma naik lift! Jadi, tiap hari aku pakai tangga naik turun di flat ke apartmentku di lantai 6. So, bisa dibayangkan, betapa kekarnya diriku, keseharianku serasa masuk kuil shaolin 3 taun, dilatih mental dan fisik. Makanya, berat badanku naik 5 kilo :(, sedihnya, lenganku sekarang juga tampak berotot :(. Kekuatan fisikku terbukti ketika aku baru tiba di bandara Soekarno-Hatta, aku dengan entengnya ngangkat koper 30 kg dengan kesigapan yang jauh lebih bagus dibanding bapak-bapak yang nawarin jasa porter (hehe..ga heran akhirnya bapak-bapak porter itu urung menawarkan jasanya ke aku pas liat aku lebih powerful dan stabil angkat-angkat bagasi dibanding mereka).

Cerita berlanjut. Saat tinggal di flat, aku pun melamar bekerja part time sebagai subwarden – yang bertugas sebagai backup manager (sekaligus teknisi dan satpam apartment, lol) selama diluar office hour. Tugasnya macam-macam, mulai dari membantu customer check-in dan check-out, inspeksi kamar, menangani fire alarm (dimana panelnya ada di lantai dasar! Artinya, kalo alarm bunyi, aku kudu lari-lari turun tangga dari lantai 6 ke lantai dasar untuk cek lokasi sumber alarm), standby di kantor, nerima telpon buat yang tanya-tanya tentang kamar, nanganin korsleting listrik, mbantuin tenant keluar dari lift pas lift stuck (pas momen ini, aku serasa jadi wonder woman bok! buka pintu lift manual pake tangan dengan bantuan kunci lift khusus), hingga sampai menangani tenant yang berhalusinasi.

Hehe, jadi, untuk tenant yang berhalusinasi, ceritanya begini. Mulai 22 Desember hingga 2 Januari itu adalah liburan panjang di UK, untuk merayakan Natal sekaligus Tahun Baru. Seluruh dosen, karyawan, serta mahasiswa pasti mereka mudik kota asal mereka masing-masing, dan itu membuat townku (Loughborough) akan menjadi sangat senyap, termasuk apartmentku. Hal ini disebabkan university adalah jantung perekonomian townku, jadi ketika university libur total, maka town juga relatively ikut “libur”, alias sepi.

Karena aku subwarden, maka aku harus terus stay di apartment selama holiday panjang tersebut. Dari total 112 kamar, mungkin hanya sekitar 4-7 tenants (termasuk aku) yang tetap stay di flat. Jadi bisa dibayangkan, gedung flatku sangatlah sunyi, dan suasana di luar gedung flatku pun juga sangat sunyi, karena townnya sunyi. Suara aliran listrik carjer hapepun bisa didengar jika tengah malam tiba, hehe. Plus, Desember adalah winter time, so cold and quiet, komplit sudah nuansa bertapanya… Jadi silakan dibayangkan, aku pernah tidak ngomong sama sekali karena tidak bertemu manusia selama sekitar 2.5 minggu!! Apakah itu stressful? Haha, pada awalnya, iya, sangat… namun pada akhirnya aku mencoba memposisikan diriku sebagai pertapa, dan itu sangat membantuku untuk survive untuk tidak berinteraksi dengan manusia selama durasi tersebut!

Plus, suatu ketika, di tengah-tengah sunyinya suasana flat dan kota, tepat pukul 12 malam, ketika aku sudah tertidur lelap, HP subwardenku berdering. Seorang cewe lokal (native) telepon dan mengatakan bahwa dia tidak bisa tidur karena ada tenant yang memutar musik kenceng-kenceng di bloknya tengah malam. So, karena tugasku adalah menjamin kenyamanan tenant, maka turunlah aku ke lantai 2, masuk ke blok apartment dimana cewe itu tinggal dan cek suasana. Ternyata suasananya sangat hening, ngga ada suara musik sama sekali. Karena aku pikir fine, maka aku naik ke apartmentku dan kembali ke kamar. Lalu, ternyata HP subwardenku berbunyi lagi, dari cewe yang sama, dengan komplain yang sama. Demi meladenin customer, aku turun lagi untuk kedua kalinya ke blok tempat cewe itu tinggal, dan, everything is fine! Tidak ada noise sama sekali. Baru pas itu aku berpikir bahwa mungkin cewe itu berhalusinasi..? Lalu dia call lagi dan komplain hal yang sama, dimana saat itu aku posisinya masih berada di blok dia di lantai 2. Pada call yang ke-tiga tersebut, aku baru berani bilang ke dia bahwa : I hear no music and any other noise in your apartment, because now I am at your block. It’s totally fine.. I’m here with you now…..” dan bla bla supaya dia stop berhalusinasi. Untungnya, in the end, dia bilang sorry karena memang sekarang dia ngga denger ada noise..

Yah begitulah. Itulah hidupku selama sebagai student di UK, serta efek mental dan fisik terhadap diriku. Yang sedih, sekarang badanku rada berotot :(, moga-moga aku bisa kembali feminin lagi karena sekarang aktivitas fisikku jauh tak seintens dulu…

So, this is me.. Banyak life experience lain yang ingin aku share,. Semoga aku diijinkan Allah untuk tetap mengingat dan meneruskan hikmah pengalamanku hidup di UK.

Hari ke-3 di Indonesia

Today is my third day in Indonesia – after 3 years.

It wasn’t difficult for me to adjust myself to the situation and weather here. I just required 2 days to adapt to the air pollution and high humidity, as well as to the food.

The first impression that I got here is: the living cost is getting more expensive..!!

Gile, bayangin aja, gaji dosen ga naik2 amat, tapi harga barang naik signifikan selama 3 taon. For example, bread 12,500 rupiah, dengan ukuran loaf yang yang lebih kecil dari small loaf bule.

Plus kualitas hidup rakyat Indonesia rata2 sama aja; biaya hidup naik, quality of life ngga improved. Makanan serba goreng2, dan buah2an, susaaahhh banget nyarinya!! Pas minum teh sosro kotak, langsung mual, makan small spicy bitesnya McD, aduhh..krasa asin and oily banget, ayam KFCnya juga asin banget, eneg :(… so, kesannya, aku jadi cerewet gitu :(.. Aku jadi realise miss makanan plain, sayur and buah yang plenty :(.. but aku ga kangen winter di Inggris.

Biaya hidup di Indonesia, mahal..!! Fotokopi aja selembar 150 rupiah and aku teriak “whatt?? yang bener bang!”. Tiga taon yang lalu perasaan masih kisaran 50-75 rupiah di Depok! Pisang di Indomaret is also no cheaper than in the UK, as well as eggs, roti marie, beras, buah :(..

Rakyat Indonesia itu kudunya kritis ya. Kalo dalihnya harga minyak dunia naik, kudunya inflasinya juga ga lebih tinggi dari Inggris donk, apalagi Indonesia ada kilang minyak and Inggris ga punya sumber minyak sama sekali.. aduh..ga tau deh.. negeriku yang tercinta…

I hope someday ada pemimpin yang bisa mencerdaskan kehidupan rakyat Indonesia, biar ga diboongin mulu, dan kualitas hidup bisa meningkat..!

Aku merindukan mudahnya mendapatkan buah dan sayur 😦

Serta rindu pula pelayanan kesehatan yang tidak memudahkan pemberian antibiotik ke pasiennya….

Nganggur di uni malem2 ..

Well, let’s write something random now.

Now it’s 8pm, where I still need to wait an hour more until my friend finishes working at 9pm.Yep, sekarang aye “homeless”, coz dengan durasi stayku yang kaga bakal setaun lagi disini bikin no student accommodations allow me to have short-term tenancy. Jadi, sekarang ini aku tinggal di rumah seorang teman yang baik hti, yang saat ini sedang kerja from 7am to 9pm, in this fall time (means, siang mulai pendek, suhu mulai adem, langit mulai dully, and angin mulai berhembus2).

Tapi ya, yang namanya pertolongan Allah itu selalu datang dengan penuh barokah, hiks. With this kinda situation, I got further life lessons as now I’m being “homeless” – although it is not literally real homeless. Luckily, I have many friends who are always ready to lend their hands to support me without asking return :'(. That’s the amazing of life, really.. alhamdulillah…

The thing that makes me sad is just because I have no ability (for now) to reply their great kindness. Hopefully, someday I, or other people, will be able to reply their very kind assistance as nice as they have given to me.

Hope God always protects my lovely friends, along with their big family.

Also, please protect my big family back home.

InshaAllah.

(Sambil kelaperan, makan apel 5 biji, microwaved telo, sebungkus Jacob’s cheese biscuits, and now nungguin examination MBA students yang moga2 segera kelar di gedung sebelah, while hoping ada sisa2 sandwiches or another fruits yang bisa diemplok, hihiii #student’slife)

Winter is coming

Winter is now coming.

The sky starts to be dull and easier to make my heart feel blue.

The day gets shorter, the night time is getting longer.

The wind becomes stronger and makes the normal temperature to be much colder.

I should feel so blessed with this my life experience so far. Many ups and downs that lead me to understand and grateful things much easier than before.

However, as a human being, sometimes I just feel hard to realise all the good things that I have now, and I know it is so bad and I should avoid it as soon as I feel it.

Hope all of us always stay blessed, forever …

 

Gossip and Gossipers

Well, dimanapun manusia berada dan disitu ada yang seculture, maka disitulah ada gosip. Bahayanya, gosip itu bisa membunuh karakter dan masa depan seseorang, jika orang yang digosipin itu tidak “melawan” atau meluruskan isu buruk yang beredar.

Kadang si gosipers itu ngga ngerasa kalau mulutnya bahaya dan berpotensi untuk membunuh hidup seseorang, but again, it depends on us. We should be very wise extracting and understanding the gossip. I have practisied it once, when I do not really trust a person’s words about another person, or when sebuah kelompok besar manusia memberi stigma buruk tertentu ke seseorang, padahal I do not get the same interpretation saat berinteraksi langsung ke orang tersebut. Namun sayang, sebagian besar orang telah terpengaruh gosip tersebut dan membuat sang manusia yang digosipin tampak ‘teraniaya’, and I can do nothing to help him/her :(.

Well, whatever it is, we should learn from that phenomenon (of gossip). Semoga kita semua senantiasa dilindungi dari fitnah serta tidak pula berkontribusi dalam nyebarin fitnah yang ada. Amin!!

Just beware, our words can be an effective killer than a knife!

🙂

My Indonesian friends in Loughborough – they are a part of my life

Loughborough, 24th July 2016

Time does fly really, and it’s been ages I haven’t checked my blog.

Sebenernya aku ngga ada sesuatu yang special untuk ditulis, but I think it might worth to share a little experience here, in the UK. Tapi, maaf ya kalo bahasanya bakal gado-gado, plus grammar berantakan..haha.. maklum, ga niat nulis and ga mau edit2 gitu :p. Hope this article flows well, kalo emang ada yang nyasar and baca tulisan ini :p.

Living in a place where ngga many Indonesian live has taught me a lot, apalagi di tempat yang semi2 desa gini (tapi ngga ada sawah and masi ada church, so that it is still relevant to be called as a town – instead of a village :p), terutama tentang bagaimana mengapresiasi hidup. Sering aku berpikir, andai orang Inggris itu muslim, mungkin dunia ini sungguh sempurna, hehe.. tapi mungkin Allah tidak menghendaki hal tersebut untuk kaum manusia, wallahu alam.

Balik lagi, tentang not many Indonesian people in my town. Semisal aku dulunya memutuskan untuk tinggal di Manchester atau Melbourne (karena dulu aku dapat offer juga dari beberapa university, such as Monash University, University of Manchester, and University of Tazmania), atau mungkin di Hiroshima (as I also got offer from Hiroshima University, although it wasn’t an official offer yet), mungkin aku ngga dapat much learning opportunities as I stay in Loughborough. Bayangkan aja, di Manchester misalnya, Indonesian studentsnya aja udah around 250. In contrast, not many Indonesian students di Lboro, dapet lima ampe sepuluh anak aja udah sangat ajaib, hehe. Tapi, justru itu lah yang membuat aku belajar banyak, apalagi ngga pake pulang selama 3 taun berturut-turut, I’m feeling like, I am so blessed staying here!

Disini karakter Indonesian studentsnya luar biasa beda2, tapi karena kita minoritas dan atas dasar survive, secara ajaib, we are really close and always supporting each other – no matter di Indo kaya raya ato engga (yang jelas, aku bukan anak orang kaya:p), muslim ato engga (mostly mereka nonmuslim ^^), seberapa jauh gap umur kita, seberapa beda referensi kita untuk suka2 ^^ (ada yang demennya clubbing, ato ke gereja, ato ke pengajian, ato ke gym, ato jalan2, de el el…yang jelas itu bukan preferensiku semua :p). Aku hanya membayangkan, andai aku stay di Indonesia, it seems impossible aku bisa mengenal teman2 yang seperti itu.. sekali lagi, Allah Maha Besar. Sungguh aku bersyukur diberi Allah untuk bisa bernteraksi dan dekat dengan teman2ku sekrang ini. I have learn’t a lot from them!

Ngga cuman belajar hidup dari teman2 Indonesia, I also have learnt lots things from my overseas friends, terutama tentang ketulusan membantu…..

Hidup itu sungguh indah, dan kadang kita akan semakin mensyukuri indahnya hidup ketika kita hidup dalam situasi yang minimalis really, e.g. not much people, not much attractions (sekarang aku ngga excited lagi liat mall, lebih suka menikmati alam dan interaksi sesama manusia), etc. Mungkin ini sama halnya ketika aku harus makan makanan plain tiap hari tanpa bumbu since I got ulcer; I can taste that green tea is soo sweet and refreshing, red rice is soo sweet, broccoli is soo sweet, and plain flour is so savoury, although I didn’t put any seasonings.

In short, aku sungguh sering menangis syukur kepada Allah atas kesempatan luar biasa ini. My life experience in Loughborough is farr more than PhD experience, it is more about life. Semoga aku bisa selalu istiqomah mengingat pelajaran hidup ini dan membawa manfaat untuk keluargaku yang tercinta.

So, if you have a chance to stay in overseas, saranku, choose a place where not many Indonesian stay there. It will be hard during the first year, but it worth.. just consider this as a natural pondok pesantren ^^.