Mengenal Supply Chain Management

Tulisan ini hanya bertujuan untuk memandu pengenalan terhadap ilmu Supply Chain Management (SCM), atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Manajemen Rantai Pasok, dengan bahasa yang lebih mudah untuk kalangan orang awam. Untuk ilmu yang lebih dalam mengenai apa itu SCM, silahkan membeli buku yang spesifik membahas mengenai SCM yang dikarang oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dalam bidang SCM. Bagi pemula, saya sangat menyarankan untuk membeli buku daripada melakukan browsing di internet, karena pengetahuan yang disajikan oleh buku lebih tersusun sistematis, sehingga alur logikanya bisa kita tangkap dan kita uraikan sendiri. Adapun beberapa buku yang sementara ini bisa saya rekomendasikan bagi pemula dalam memahami dasar-dasar ilmu SCM adalah sebagai berikut.

1. Supply Chain Management : Strategy, Planning, and Operation, karangan Sunil Chopra dan Peter Meindl (English)

2. Supply Chain Management, karangan Nyoman Pujawan dari ITS (Indonesian)

Sebenarnya banyak sekali buku-buku SCM yang beredar di pasaran, namun kebanyak dari buku-buku tersebut sudah memiliki spesialisasi terhadap fungsi SCM yang dibahas, misal, untuk fungsi ERP, SAP, logistik, transportasi, distribusi, produksi, dll.

Sedangkan Laboratorium pertama di Indonesia yang banyak melakukan riset tentang SCM ada di Jurusan Teknik Industri – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yaitu Laboratorium Logistics and Supply Chain Management (LSCM) , yang didirikan oleh Prof. Nyoman Pujawan. Untuk kontak dengan lab tersebut, bisa via email labscm@gmail.com.

Ok, sekarang kita mulai spesifik masuk ke pengertian Supply Chain itu sendiri. Menurut Pujawan (2005) Supply Chain adalah jaringan perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk sampai ke end customer. Perusahaan-perusahaan tersebut biasanya terdiri dari rangkaian supplier/pemasok, pabrik, distributor, toko atau ritel, serta perusahaan-perusahaan pendukung seperti perusahaan jasa logistik.

Pada suatu supply chain, ada 3 macam aliran yang harus dikelola mulai dari hulu (upstream, yaitu sisi dimana barang masih berbentuk raw) hingga ke hilir (downstream, yaitu sisi dimana barang sudah berbentuk final product atau end item yang siap dikonsumsi oleh end customer), yaitu aliran material, informasi, dan uang.

Sedangkan SCM sebenarnya sudah mulai dikenalkan sejak tahun 1982 oleh Oliver dan Weber. Kalau Supply Chain adalah jaringan fisiknya (karena terdiri dari perusahaan-perusahaan), sedangkan SCM adalah ilmunya, metode, alat, atau pendekatan untuk mengeolal Supply Chain tersebut SCM menghendaki pendekatan yang terintegrasi mulai dari hulu hingga hilir, karena memiliki prinsip 3C, yakni Coordination, Cooperative, dan Cooperation antar seluruh pelaku dalam Supply Chain tersebut.

Berikut ini adalah beberapa ilustrasi sederhana mengenai SCM.

Gambar pertama dan kedua menggambarkan bahwa aliran-aliran yang terjadi di sepanjang supply chain harus dikelola secara terintegrasi, sehingga barang bisa sampai tepat waktu dan tepat jumlah di tangan end customer, dengan beroperasi secara efektif dan efisien, dan meminimumkan distorsi informasi antar pelaku supply chain.

Sedangkan berikut ini adalah ilustrasi sederhana mengenai ruang lingkup SCM. meskipun pada gambar dibawah ini masih belum merepresentasikan secara keseluruhan apa saja yang dikelola dalam SCM.

Dan berikut ini adalah beberapa perusahaan yang dinilai telah sukses mengaplikasikan ilmu SCM dalam operasi bisnisnya (Best Practices at SCM).

Sementara cukup demikian. Semoga sudah mulai ada gambaran mengenai apa sebenarnya Supply Chain Management.

About these ads

32 thoughts on “Mengenal Supply Chain Management

  1. Wow, very nice! :D great theme! :) posting yang sangat bagus! it’s a great introductory post..i’m subscribing for sure :D teruskan..ntar kalo udah banyak kita kompilasi jadi sebuah publikasi ;)

    • hmm…mas iki mikir spesific case. SCM untuk disaster, perang, atau kejadian terorisme lebih ditekankan pada desain proses distribusi dan logistik, serta kontrol persediaannya. Strategi SCM disesuaikan dengan ketersediaan infrastruktur, dan kemampuan pasokan, serta visibility informasi (yang perlu dibangun databasenya) selama terjadinya special case tsb, dan itu adalah tantangan terbesar dalam proses delivery dan mencapai response time yg sesingkat2nya.

      Dalam kasus tsb sekalipun (sepanjang pengetahuanku sih..), tetap menggunakan prinsip2 dasar SCM, muali dari tahapan planning, sourcing, procurement, dan logistics (cuman dalam kasus ini, selain infrastruktur, yg paling mencolok adalah demand jelas tidak bisa kita pengaruhi sebagaimana demand untuk kepentingan bisnis).

      Selain itu yang menyebabkan perbedaan model SCM yang krusial adalah adanya biaya kekurangan atau keterlambatan pengiriman yg “pinalti”nya (refers to resiko) jauh lebih besar dibandingkan untuk kasus2 yang non-disaster. Apalagi kalo berkaitan dengan bahan makanan yg memiliki kadaluarsa/membutuhkan treatment tertentu dalam proses delivery atau penyimpanannya.

      mungkin jawabannya masih sederhana banget. ntar kalo udah lengkap ilmu2ku yang spesifik ke arah itu, aku posting di blog deh, if i have more time :). yang jelas belajar dulu lebih dalem, hehe.. tapi monggo jika ada komentar, atau klarifikasi. Silakan diperkaya :)

      • Ya, pastinya prinsip2 dasar SCM pasti tetap terpakai, hanya saja lingkungannya yang berbeda dengan keadaan lingkungan normal. Kita kembangkan kearah sana yuk?^^ hehe..asline kabeh prinsip dasare padha..rasanya aku enggak memiliki kompetensi dlm bidang ini (atau belum? haha..) nanging aku cuma mancing awakmu nggawe ‘bahasa pemasaran’ yg berbeda. Orang pasti akan lebih tertarik dengan judul yg sedikit bombastis: “SCM for Disaster-Struck Areas” hehe.

        Keep up the good work. Aku tunggu posting kamu berikutnya ;)

  2. SCM for disaster sih udah ada beberapa papernya mas, cuman aku sendiri belum pernah mbaca yang sifatnya udah spesifik gitu, jadi jawaban diatas juga teoritis banget yang aku kembangin dari basic teori SCM :(. Iya, ranah SCM itu masih sangat amat luas, karena sebenarnya prinsip SCM sendiri (menurut aku) adalah konsep yang “wajar” kalo kita bicara ranah ilmu yang diawali dengan kata “manajemen”, kalo diresapi, sebenarnya nothing’s truly new. Actually, it only provides “natural” solutions, but in a bit specific point of view. Untuk mengasah sensitivitas dan intuisi, emang butuh jam terbang. iya, ayuk2 kolaborasi, tp belum nemu2 topik jg T-T. Tugas AA gimana? hahahaha….

  3. Terimakasih ‘Mbak Niniet, atas postingannya. Aq jadi sedikit tahu tentang SCM. Maklumlah, saat kuliah dulu, SCM masih belum ada di kurikulum TI ITS.

    Monggo dilanjut. Semoga bisa membawa manfaat bagi sesama. Amin…!!!

  4. Benar sekali, ‘Mbak Niniet…! Untuk menulis itu memang membutuhkan waktu luang dan mood yang bagus

    Saudaraku…,
    Perhatikan penjelasan Hadits berikut ini:

    Diriwayatkan dari Jabir berkata, Rasulullah saw bersabda: “Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia”. (HR. Thabrani dan Daruquthni)

    Saudaraku…,
    Dari hadits tersebut, jelaslah bahwa jika kita ingin termasuk golongan sebaik-baik manusia, maka kita harus berupaya untuk menjadi orang yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Salah satunya adalah dengan menulis artikel-artikel yang bermanfaat seperti yang telah saudaraku lakukan.

    Artikel yang ditulis tidak harus artikel religi. Artikel apapun, yang penting bisa membawa manfaat bagi sesama. Insya Allah tulisanku berikut ini bisa menggambarkan, betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (bukan hanya ilmu agama). Demikian penjelasan langsung dari Al Qur’an.

    Wassalam,
    Imron Kuswandi M.
    TI ITS ’89

    —–

    PENTINGNYA PENGUASAAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Saudaraku…,
    Sesungguhnya bidang ilmu keteknikan serta bidang-bidang ilmu lainnya; seperti ilmu kedokteran, ilmu pertanian, ilmu ekonomi, dll. adalah penting untuk dikuasai oleh kaum muslimin.

    Cukup banyak ayat-ayat Al Qur’an yang mengisyaratkan hal ini. Bahkan ayat yang pertama kali turun, yaitu ayat 1 – 5 dari Surat Al-‘Alaq [96], telah mengisyaratkan hal ini.

    Berikut ini adalah penjelasan Al Qur’an surat Al ‘Alaq ayat 1 – 5:
    1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
    2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
    3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
    4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam*.
    5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
    *) Maksudnya: Allah mengajarkan manusia dengan perantaraan tulis baca.

    Sedangkan pada ayat-ayat yang lain, kita juga mendapati adanya penjelasan agar kita memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya. Yang tentunya hal ini semua tidak mungkin bisa kita lakukan dengan baik, jika kita tidak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

    ”Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Yunus. 6).

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS. Ali ‘Imran. 190). “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali ‘Imran. 191).

    Saudaraku…,
    Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa memang sudah seharusnya bagi kita semua untuk selalu menggunakan akal dengan selalu memikirkan ayat-ayat Allah baik yang qouliyah (dalam nash Qur’an dan Sunnah) maupun kauniyah (ayat-ayat Allah di alam semesta).

    Ibarat hendak menuju suatu tempat*, maka Al Qur’an dan Al Hadits adalah petunjuk jalannya, sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi tak ubahnya seperti kendaraan yang dapat dijadikan sebagai alat bantu sehingga perjalanan tersebut dapat menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Adapun yang dimaksud dengan suatu tempat* di sini adalah kebahagiaan hakiki di negeri akhirat. (Wallahu ta’ala a’lam).

    Saudaraku…,
    Meskipun demikian, tanpa adanya penguasaan ilmu agama, semuanya itu hanya akan sia-sia saja. Karena bisa dipastikan bahwa semuanya itu hanya akan digunakan oleh syaitan sebagai sarana untuk mempermudah jalan menuju “neraka”.

    Dalam Al Qur’an surat Al A’raaf ayat 16-17, diperoleh keterangan bahwa: “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”.

    Bahkan, tanpa kita sadari, pada akhirnya kita akan “memandang baik perbuatan ma`siat” di muka bumi ini. (Na’udzubillahi mindzalika!).

    Demikianlah penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Hijr ayat 39 dan ayat 40. Karena Allah telah memutuskan bahwa iblis itu sesat, maka pasti iblis akan menjadikan kita memandang baik perbuatan ma`siat di muka bumi ini. Dan pasti iblis juga akan berupaya untuk menyesatkan kita semuanya. Kecuali jika kita termasuk golongan hamba-hamba Allah yang mukhlis.

    Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”, (QS. Al Hijr. 39). ”kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis* di antara mereka”. (QS. Al Hijr. 40). *) Yang dimaksud dengan “mukhlis” ialah orang-orang yang diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah. (Wallahu a’lam).

    Saudaraku…,
    Sekali lagi, ilmu pengetahuan dan teknologi memang dapat mempermudah urusan kita. Namun, jika kita tidak menyandarkannya kepada Al Qur’an dan Al Hadits, maka ilmu pengetahuan dan teknologi juga dapat mempermudah jalan menuju “neraka”. Sebagaimana kita ketahui bersama, betapa dengan perkembangan teknologi informasi yang ada pada saat ini, ternyata juga berdampak pada demikian mudahnya penyebaran kemaksiatan diantara kita. Na’udzubillahi mindzalika!

    Oleh karena itu, waspadalah wahai saudaraku…!!!

    Saudaraku…,
    Hanya dengan akal yang berpegang (mengimani dan mengikuti) Al Qur’an saja, insya Allah kita akan mencapai puncak kemuliaan, baik di dunia fana ini, apalagi di alam akhirat kelak. (Wallahu a’lam).

    —–

    ”Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu*, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaahaa. 114). *) Maksudnya: Nabi Muhammad SAW dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril AS kalimat demi kalimat sebelum Jibril AS selesai membacakannya, agar dapat Nabi Muhammad SAW menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu.

    Semoga bermanfaat!

    • Thanks mas G (mas ato mbak ya?).. kasus untuk apa nih? banyak kasus di SCM, at least bisa dilihat di gambar yang ke-3. Mulai dari inventory problem, supplier relationship, supply chain strategy (efisien atau responsif), portponement, VMI, optimal hub decision, VRP, supplier selection, … banyak banget mas. Bahkan kasus SCM di perusahaan2 “pasti ada”nya. Silakan kalau mau diskusi :)

  5. Salam kenal, saya mau tanya apakah SCM itu lebih mengarah kepada kualitatif atau kuantitatif? saya pernah punya teman yang menjalankan proyek supplier selection dan disitu banyak subjektivitasnya,, sementara ketika saya belajar ilmu logistik dulu banyak metode matematis yg sangat rumit, dan bahkan saya tidak paham sampai sekarang. Saya sendiri kurang begitu tahu SCM, tapi Apakah tidak terlalu susah jika kita memahami SCM yang begitu luas itu??? Sebagai gantinya mengapa kita tidak mempelajari yang lebih khusus seperti Optimasi untuk logistik, teknik pemilihan supplier, perencanaan jadual job, yang lebih spesifik dan mendalam??

    • salam kenal juga mas Roni, terima kasih ya sudah men”jenguk” blog saya :).
      Keputusan yang dihasilkan SCM itu pada dasarnya bersifat strategis mas, jadi efeknya jangka panjang (sekitar 2-10 tahun). Namun untuk menghasilkan keputusan strategis yang baik, tentunya perlu disupport oleh keputusan taktis (bulanan hingga 2 tahun) dan keputusan operasional (harian hingga mingguan). Sehingga dengan demikian bisa dikatakan memang ruang lingkup SCM cukup luas, dan pada umumnya penyelesaian solusinya menggunakan pendekatan top-down : umumnya berangkat dari strategi yang diinginkan perusahaan (ingin efisien atau responsif), kemudian baru diturunkan ke keputusan2 seperti penentuan jaringan distribusi, pemilihan supplier, penentuan moda transportasi, perencanaan produksi, penentuan penggunaan gudang (sewa, public warehouse, atau kelola sendiri), penjadwalan kendaraan, penentuan rute kunjungan, dst.
      Untuk menghasilkan keputusan2 tersebut, secara umum ada 2 pendekatan : kualitatif (banyak unsur subjektifnya) dan kuantitatif (matematis, optimasi, heuristics, maupun statistics).
      Untuk kasus pemilihan supplier (yang efeknya bisa taktis hingga strategis), memang pada umumnya metode kualitatif (yg subyektif) paling sering digunakan karena paling mudah, meskipun bisa juga di dekati dengan optimasi (namun relatif jarang digunakan). Yang paling kritis dalam metode kualitatif adalah penentuan kriteria, yang harus mencerminkan strategi dan performansi supply chain yang diinginkan.
      Sedangkan untuk keperluan logistik, memang paling sering digunakan metode optimasi dan heuristik, meskipun ada kalanya juga perlu menggunakan pendekatan kualitatif, misal untuk menentukan penggunaan sistem pergudangannya.
      Namun dalam kasus lapangan, seringkali kita perlu mengkombinasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif secara berdampingan.
      Satu lagi, biasanya makin panjang efek keputusan yang dihasilkan, maka pendekatan kualitatif itu akan semakin baik untuk digunakan :)
      Semoga penjelasan singkat ini bisa membantu :)

  6. Terima kasih bu atas infonya,, sangat membantu sekali,,,, pasti bakalan susah ya kalo harus belajar semuanya,,, saran saya kedepannya mungkin bisa diupdate tentang topik2 SCM yang lebih khusus di blog ini, soalnya saya lg butuh banyak info tentang SCM,, hehe,, dan saya pikir sangat sedikit sekali blog tentang SCM (atau hampir tidak ada blog yang membahas SCM dlam bhs indonesia)

    • hehe..kalau susah itu relatif pak..iya, semoga tulisan sederhana ini bisa bermanfaat. terima kasih atas sarannya pak, saya usahakan untuk mencari waktu luang :). Monggo kalau bapak ingin sharing dan diskusi.

  7. Terimakasih untuk informasi SCM nya. Mba saya sedang belajar tentang SCM IKM Batik, bisakah mba memberikan gambaranya?,

  8. Salam Bu arvietrida,,, saya sedang membaca sekilas mengenai reverse logistic sekarang,,, singkat saja saya mau tanya,, dalam reverse logistik ==yang saya baca dari beberapa paper hanya mempertimbangkan parameter kuantitatif seperti kapasitas, jarak dan time windows,, apa bila saya ingin menambahkan parameter kualitatif yang nantinya akan saya pertimbangkan,,,, parameter apakah yang saya harus masukkan? Terima kasih Bu arvietrida,,,

    • Salam Pak Roni…sebelumnya saya benar2 sangat tersanjung ditanyai detil SCM yang sudah kompleks demikian, hehe..namun saya akan mencoba membantu memberikan pandangan dari sudut pandang saya, jadi saya bukan berarti menjawab pertanyaan bapak :)

      Mengenai parameter, penentuan parameter itu biasanya disesuaikan dengan tujuan penelitian atau permasalahannya, sehingga model reverse logistics yang dirancang atau dievaluasi bisa dikontrol performansinya sesuai dengan apa yang ingin kita selesaikan, atau apa yang menjadi pusat perhatian kita. Misalkan jarak, biasanya kita melibatkan parameter jarak ini kalau kita menginginkan model tsb mampu memberikan jarak tempuh yang minimum, atau parameter jarak itu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap biaya (meskipun tidak bisa kita minimumkan).

      Memang pada umumnya parameter2 dalam model2 SCM atau logistik itu sifatya kuantitatif karena mudah mengukurnya, bisa didekati dengan perhitungan analitis (matematis) maupun simulasi. Karena parameter itu bisa dijadikan acuan, atau pembanding terhadap model satu ke model lainnya, atau pembanding dengan target yang kita pasang. Jadi, jika kita menghendaki adanya parameter kualitatif, umumnya sebisa mungkin parameter kualitatif tersebut di”konversi”kan ke parameter kuantitatif yang sesuai yang dapat diukur secara numerik.

      Demikian pak Roni, mohon maaf bila belum bisa banyak membantu. Semoga bermanfaat

  9. numpang nanya, saat ini saya sedang belajar tentang reverse logistics untuk tugas akhir saya, kira2 punya tutorial atau materi pdf yg bagus tentang reverse logistics gk y??? atau mungkin saran buku apa saja yg membahas tentang reverse logisics?????
    thx..

    • Hi mas Hilman. Untuk reverse logisics biasanya banyak dibahas secara spesifik di paper2 baik prosiding maupun international journal. Reverse logistics biasanya sangat erat kaitannya dengan closed loop supply chain. Contoh, kaya botol kosong Coca-cola or Teh botol sosro, or galon Aqua (bukan maksud hati nyebut merek lho ya..) itu menganut closed loop supply chain sehingga membutuhkan reverse logistik yang handal untuk menjaga keberlangsungan produksi mereka. Tapi ada juga reverse logistics yang didedikasikan untuk green supply chain dan warranty case. Jadi, variasinya sebenarnya cukup banyak. Good luck! ;)

  10. Pingback: Mengenal Supply Chain Management : Aan Farianto Dot COM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s